
Ngrowhod, proses upacara ritual sekaligus ekspos yang menjadi kebanggaan masyarakat Girikerto. Saat itu tahun 1999, Drs. Suharto terpilih sebagai kepala desa. Beliau melihat bahwa tradisi syukuran pada masing-masing padukuhan yang selalu dilaksanakan itu baik, tetapi lebih baik lagi jika ada suatu acara yang melibatkan satu desa. Keberadaan Sendang Panguripan sebagai modal utama, Suharto berpikir keras untuk merancang suatu even yang dapat dimanfaatkan sebagai suatu kearifan lokal menjadi peristiwa budaya. Dalam mewujudkan gagasan tersebut, Suharto melakukan tirakat untuk mendapatkan cara terbaik dan bermanfaat bagi warga desa Girikerto.
Dari perenungan dan tirakat, akhirnya tercetuslah gagasan memberi nama prosesi budaya menggunakan titik sentral Sendang Panguripan dengan nama Upacara Ngrowhod. Secara harafiah, kata ngrowhod dalam bahasa Jawa berarti makanan yang berupa umbi-umbian (pala kependhem). Namun jika dihubungkan dengan laku prihatin, puasa yang hanya boleh makan berupa ubi-ubian dan sayuran, misalnya ubi, jagung dan lain-lain selain beras. Ngrowhod selain mempunyai makna harfiah, merupakan kependekan dari Ngleluri Ombyaking Warga Hametri Desa. Merupakan semboyan Kalurahan Girikerto, yang selalu mengupayakan suasana desa yang bagus dan indah, asri, tenteram dan damai. Upacara Ngrowhod mengantarkan Girikerto, sebagai Desa Mandiri Budaya yang peresmiannya dihadiri Sri Sutan HB X dijadikan tradisi dan dilestarikan hingga sekarang. Padukuhan Nangsri telah tercatat dalam lembar kehidupan zaman, yang terlacak dari dulu hingga kini.
Upacara Ngrowhod, penuh simbol yang menghubungkan kekuatan alam dan kekuatan pikir manusia. Dalam peristiwa itu seluruh padukuhan berkumpul di Sendang Panguripan, untuk mengambil air kendi oleh para gadis dan diiringi tumpeng menggambarkan makanan yang dinikmati masyarakat Girikerto dikirabkan menuju padukuhan masing-masing yang berjumlah 13. Budaya itu lebih bermakna ‘nyawiji’. Pertama, sikap arif dan bijaksana memandang kehadiran Sendang Panguripan dan yang kedua menyuarakan dan menggemakan rasa persatuan warga untuk senantiasa mencapai karya Desa Girikerto. Persatuan itulah menjadikan sebagian bentuk keindahan yang tampak di Padukuhan Nangsri dan padukuhan lain, juga Kalurahan Girikerto titik sentral dalam membangun kebersamaan untuk sebuah kemajuan.

