
Suatu hari, terjadi pertengkaran hebat antara Branjang dan Klampit, di mana keduanya tidak ada yang mau mengalah. Mereka memutuskan untuk mencari tempat yang luas agar bisa bertarung secara adil. Meskipun Branjang hanya sendirian karena teman-temannya masih berada di lembah selatan, ia tetap menghadapi Klampit dan sepuluh temannya. Branjang mulai kewalahan dikeroyok oleh mereka. Dalam situasi itu, Klampit melepaskan sebuah panah yang mengenai bahu kanan Branjang dan menembus hingga ke dadanya. Branjang pun tumbang, tidak berdaya.
Melihat keadaan itu, teman-teman Branjang yang berjumlah lima belas orang menjadi sangat marah dan mengamuk seperti orang kerasukan. Mereka menyerang Klampit dan kawan-kawannya dengan membawa pedang dan bandul. Salah satu dari mereka berhasil mengenai wajah Klampit dengan bandul, membuat Klampit jatuh tersungkur dengan darah mengucur dari wajahnya. Pertarungan antara kelompok Klampit yang berjumlah sepuluh orang dan kelompok Branjang yang berjumlah lima belas orang menjadi semakin sengit, dengan tekad bertaruh nyawa.

Pada saat yang sama, Ki Losari yang baru saja beristirahat di rumah panggungnya, melihat keributan tersebut dan segera mendekat ke tempat pertarungan. Namun, ketika ia tiba di sana, ia hanya menemukan tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa. Pertarungan itu telah merenggut nyawa Branjang, Klampit, dan semua teman mereka.
Ki Losari, bersama lima orang lainnya, dengan berat hati menguburkan semua korban yang jumlahnya 27 orang, terdiri dari Branjang dan 16 temannya, serta Klampit dan 10 temannya. Karena keterbatasan tenaga dan waktu, penguburan dilakukan dengan asal-asalan, hanya membuat gundukan-gundukan tanah sebagai makam. Sejak itu, tempat tersebut dikenal sebagai “Kuburan Punthuk,” yang berarti kuburan berbentuk gundukan. Sementara lokasi pertarungan antara Branjang, Klampit, dan teman-teman mereka disebut sebagai “Sampyoh” atau “Pancoh.”
Begitulah asal usul dari dua tempat tersebut, yang menyimpan cerita tragis tentang pertarungan dan pengorbanan nyawa para pemburu yang tak mau mengalah.

