
Pada suatu masa, wilayah selatan Gunung Merapi dikenal sebagai daerah yang subur dengan banyaknya hewan buruan. Ketenarannya menyebar hingga luar daerah, membuat banyak pemburu datang untuk membuktikan kekayaan alam di sana. Suatu hari, Ki Losari sedang berbincang dengan empat warga dekat rumah panggungnya ketika mereka melihat sekelompok sebelas pemburu, dipimpin oleh seorang bernama Klampit, menuju lembah di selatan rumah Ki Losari. Para pemburu ini membawa senjata seperti pedang dan panah, dan mereka memperhatikan banyak hewan liar sedang minum di lembah.
Klampit segera memberi arahan kepada rombongannya untuk bersembunyi di balik semak-semak. Mereka melihat seekor macan putih besar dan gemuk, yang menjadi target utama Klampit. Dengan penuh kesiapan, Klampit mengarahkan panahnya ke arah macan tersebut, karena menurut perhitungan hari itu adalah hari yang baik untuk berburu.
Di tempat lain, Branjang, putra Ki Wirana, sedang menjaga Sendhang Panguripan. Ia bersama 15 temannya juga memiliki niat yang sama untuk berburu. Mereka berjalan menyusuri lembah, menuju tempat yang sering menjadi lokasi minum hewan liar. Ketika Branjang melihat macan putih yang akan minum, ia pun bersiap memanahnya dari arah selatan, sementara Klampit telah lebih dulu menargetkan macan itu dari arah utara.
Macan putih itu, mungkin merasakan bahaya, memutuskan pergi dari tempat itu. Namun, karena kecepatan panah, macan tersebut terkena di bagian belakangnya. Melihat macan terluka, Klampit dan Branjang segera mengejarnya. Macan tersebut berlari kencang hingga terjepit di antara pohon-pohon bambu dan tidak bisa melarikan diri.
Branjang dan Klampit akhirnya bertemu di tempat macan terjebak. Keduanya saling mengklaim bahwa macan tersebut adalah hasil buruan masing-masing, sehingga mereka bertengkar hebat. Di tengah perselisihan itu, macan yang terjepit berhasil melarikan diri tanpa mereka sadari. Merasa kehilangan hasil buruannya, keduanya pun merasa marah dan tidak terima. Pertengkaran mereka memuncak hingga menantang satu sama lain untuk adu kekuatan sampai salah satu di antara mereka mati.
Sejak peristiwa itu, tempat di mana hewan-hewan liar biasa minum dinamakan “Ngedhag,” sedangkan tempat macan putih terjepit di antara pohon-pohon bambu disebut “Cepit.” Begitulah asal usul nama tempat-tempat di daerah tersebut, akan tetapi saat ini “Dusun Ngedhag” sudah berubah nama menjadi “Dusun Sukorejo”.


