28 September 2026

Asal Usul Padukuhan Ngandong

Kyai Sapu Jagad menghabiskan berbulan-bulan tinggal di tempat yang kini dikenal sebagai Dusun Nganggring. Selama itu, ia mencoba bercocok tanam, meskipun hasilnya belum memuaskan karena kondisi tanah yang kering. Ia berharap ketika musim hujan tiba, tanaman-tanaman yang ditanamnya akan tumbuh subur.

Suatu hari, Kyai Sapu Jagad memutuskan melanjutkan perjalanan menuju lereng Gunung Merapi. Di pagi yang hangat, ia berjalan perlahan ke arah utara, melewati jalan sempit yang naik turun jurang, hingga menyusuri sungai kering yang dipenuhi batu-batu besar. Ketika sore tiba, ia menemukan sebuah tempat yang luas dan penuh pasir panas. Merasa takut, ia memutuskan naik ke lereng barat yang lebih tinggi. Di atas sana, karena kelelahan, ia bersandar pada batu besar dan tertidur.

Dalam tidurnya, Kyai Sapu Jagad bermimpi bertemu seorang pria tinggi besar bernama Mbah Petruk, penjaga wilayah Keraton Merapi. Mbah Petruk memberi tahu bahwa batu besar tempat ia beristirahat merupakan tanda batas Keraton Merapi. Di sebelah selatan terdapat tanggul atau pagar, dan ia harus berhati-hati, karena tidak sembarang orang boleh memasuki wilayah utara dari batas itu. Setelah kejadian ini, tempat tersebut dinamai Dusun Pathuk, sementara daerah dengan tanggul di selatannya dinamai Dusun Tunggul.

Saat terbangun, Kyai Sapu Jagad merasa tubuhnya gemetar dan kedinginan, teringat mimpinya bertemu Mbah Petruk yang penuh wibawa. Ia pun terjaga hingga pagi. Ketika matahari terbit, ia melanjutkan perjalanan ke timur laut. Di perjalanan, ia mengalami kejadian aneh: seekor tawon besar berwarna putih sebesar kepalan tangan terus menghalangi jalannya. Karena peristiwa itu, tempat tersebut diberi nama Kombang Kerep, atau kini dikenal sebagai MbangKerep.

Saat malam tiba, Kyai Sapu Jagad beristirahat di bawah pohon besar. Ketika pagi menjelang, ia memperhatikan pohon itu dan menemukan tulisan atau mantra yang tidak ia pahami. Pohon tersebut adalah pohon gondang. Karena keanehan itu, tempat ini kemudian disebut Gondang Rajah atau kini menjadi Gondangreja.

Perjalanan Kyai Sapu Jagad berlanjut ke arah timur, melewati jurang-jurang sempit. Ia mendengar suara gemericik air yang ternyata berasal dari sebuah sumur. Karena takut, ia berlari menjauh, tetapi bingung dan kehilangan arah hingga kelelahan dan pingsan. Tempat sumur itu kemudian dinamai Gronggongan, sedangkan hutan tempat ia kebingungan disebut Alas Bingungan.

Saat tersadar, Kyai Sapu Jagad melihat bangunan besar seperti pendapa yang meneteskan air meski tidak hujan. Tempat itu dinamai Tritis. Tak lama kemudian, suara angin kencang dari arah barat daya membuatnya terpental ke timur laut. Ia terjatuh di atas gundukan tanah dengan dua batu besar, di mana pohon andong di sekitarnya telah kering. Tempat ini dikenal sebagai Gumuk Ijo.

Saat duduk di atas batu, Kyai Sapu Jagad melamun, mengingat petunjuk bahwa Gunung Merapi akan meletus dan menjadikan tanah di selatan gunung subur. Tak lama, ia mendengar suara pecut “cether, cether” dan keadaan menjadi gelap. Dari pucuk gunung terlihat cahaya bersinar dan setelah diperhatikan ada kereta kencana yang terbang dilangit menuju tempat Ki sapujagad. Ki Sapu Jagad melihat kereta kencana tersebut dikusiri oleh seorang wanita cantik bernama Nyai Gadhung Melati, diiringi Kyai Kertodimeja. Mereka adalah abdi Keraton Merapi yang bertugas memberikan petunjuk kepada manusia dan hewan di wilayah itu.

Gambar Watu Manten yang berada di Dusun Tritis, berbatasan dengan wilayah Pakem

Ketika Gunung Merapi akhirnya meletus, Kyai Sapu Jagad hilang dibawa Nyai Gadhung Melati dengan kereta kencana. Batu tempat ia duduk terpental dan dikenal sebagai Watu Manten. Orang-orang yang melihat kereta kencana itu menunjuk sambil berkata, “Andhong, andhong,” sehingga tempat tersebut kini dikenal sebagai Ngandong, merujuk pada peristiwa Kyai Sapu Jagad yang diangkut dengan kereta kencana menuju Keraton Merapi.

Menurut warga setempat, Dusun Pathuk, Mbangkerep, dan Gondangreja kini sudah tidak berpenghuni lagi. Setelah erupsi Gunung Merapi , seluruh penduduk di ketiga dusun tersebut dipindahkan ke daerah lain. Saat ini, wilayah ketiga dusun tersebut telah dialihfungsikan menjadi kawasan hutan lindung.