
Ketidaktenangan yang dialami masyarakat disebabkan oleh banyaknya orang yang ingin merampas harta dan hasil bumi. Setelah mendengar kabar tentang seseorang yang dapat memberikan petunjuk dan kunci untuk mencapai ketentraman, banyak orang berbondong-bondong datang ke tempat Drepajaya. Sebelum menghadap Drepajaya, mereka mampir ke rumah Kerta Mulya untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Setelah itu, mereka menghadap Drepajaya dengan membawa persyaratan berupa bunga dan telur ayam, yang kemudian dibacakan mantra. Mereka harus meletakkan perlengkapan tersebut di cekungan yang terletak di barat rumah Drepajaya. Di sana, terdapat batu datar untuk meletakkan perlengkapan. Jika perlengkapan tersebut hilang, itu berarti mereka telah memperoleh ilmu yang diinginkan. Namun, jika perlengkapan tersebut tidak hilang, itu menandakan bahwa permintaan mereka gagal, karena mereka belum sepenuhnya membersihkan lahir batin.
Gambar Sungai Manjing/Sungai Mejing
Cekungan tempat meletakkan perlengkapan tersebut kemudian dikenal sebagai tempat pemancingan, yang sekarang menjadi nama sungai “Manjing” atau “Mejing.” Setelah selesai dari tempat pemancingan, mereka kembali menghadap Drepajaya, yang mengajarkan cara menggunakan ilmu tersebut melalui lafadz atau doa. Ilmu yang sudah ditanamkan dalam diri mereka akan dikunci agar tidak hilang, dengan perjanjian untuk tidak memamerkannya, melainkan digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan.
Rumah Drepajaya pun dikenal sebagai tempat penguncian ilmu atau “Pakuncen”, yang akhirnya menjadi nama dusun “Kuncen.”

