21 September 2026

Asal Usul Dusun Glagahombo

Pada suatu masa di sebuah padukuhan yang terletak di lereng bukit, hiduplah seorang tabib sakti bernama Ki Bonasri. Ia dikenal sebagai penyembuh yang mampu mengobati berbagai penyakit, sehingga rumahnya selalu dipenuhi oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Suatu hari, setelah menyelesaikan perselisihan antara dua pemimpin desa, Suradira dan Suraditya, Ki Bonasri sangat lelah. Tubuhnya terasa penat, dan tanpa terasa, ia tertidur di bangku teras rumahnya.

Malam pun tiba, namun Ki Bonasri masih terlelap dalam tidurnya. Nyi Bonasri dan anaknya, Wirana, tidak berani membangunkannya. Ketika malam sudah melewati tengah, tiba-tiba Ki Bonasri terbangun karena mendengar suara gemuruh dari arah timur. Hatinya merasa gelisah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk, mungkin peperangan antara Suradira dan Suraditya yang kembali pecah. Dengan cepat, Ki Bonasri menyiapkan obor dari daun alang-alang, lalu ia berjalan ke arah timur, melewati lereng yang sempit dan penuh alang-alang yang tinggi.

Setelah berjalan cukup jauh, Ki Bonasri tiba di tepi sebuah sungai. Di sana, ia melihat sekelompok orang berkulit hitam dengan rambut panjang duduk bersila di atas batu besar di tengah sungai, menghadap sebuah lempengan batu. Ia mendekati mereka dan bertanya siapa mereka. Salah satu dari mereka memperkenalkan diri sebagai Sawirena. Sawirena sedang membuat gamelan dari batu yang berbentuk seperti gong besar. Ketika gong batu itu dipukul, suaranya menggema, bergetar hingga ke sekeliling, menciptakan bunyi yang sangat kuat.

Sawirena menjelaskan bahwa gamelan batu ini akan dipersembahkan kepada sang raja di Majapahit. Gong batu tersebut kemudian dikenal sebagai “Watu Gong.” Ki Bonasri mendengarkan dengan penuh takjub. Ia juga mendengar bahwa warga di tempat itu pernah menemukan gong batu tersebut ketika menggali tanah untuk membangun rumah. Tempat tersebut kemudian disebut sebagai “Dhenggung,” mengingat suara gong batu yang bergema dari sana.

Ketika fajar hampir tiba, Ki Bonasri berpamitan kepada Sawirena dan melanjutkan perjalanannya pulang. Namun, dalam perjalanan, ia teringat akan pasiennya yang masih belum sembuh. Orang tersebut menderita panas tinggi hingga kulitnya pecah-pecah, dan sudah lima hari tidak bisa tidur, membuat tubuhnya semakin kurus. Ki Bonasri merasa harus menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkannya.

Tiba-tiba, di tengah perjalanannya, Ki Bonasri mencium aroma harum dari arah pohon awar-awar. Ia mendekati pohon itu dan melihat seorang wanita cantik bersandar di sana. Namun, ketika ia mendekat, wanita tersebut tiba-tiba menghilang, dan yang tersisa hanyalah sebatang pohon glagah alang-alang yang menempel di pohon awar-awar. Ki Bonasri yakin bahwa alang-alang ini adalah petunjuk dari Tuhan. Ia mengambil glagah alang-alang tersebut dengan harapan dapat dijadikan obat.

Setelah kembali ke rumah, Ki Bonasri merebus glagah alang-alang tersebut bersama daun sirih dan jeruk pecel, lalu memberikannya kepada pasiennya yang sakit. Ajaibnya, setelah meminum ramuan tersebut, pasien itu langsung sembuh dan bisa tidur dengan nyenyak. Sejak kejadian itu, tempat di mana Ki Bonasri menemukan glagah alang-alang tadi diberi nama “Glagah Ombo” atau “Glagah Tamba,” yang berarti glagah yang menjadi obat.

Sebulan setelah kejadian itu, Ki Bonasri merasa kesehatannya mulai menurun. Suatu sore, ia memanggil istrinya, Nyi Bonasri, dan anaknya, Wirana.

Dengan suara lirih, ia berkata,“Istriku, anakku Wirana, mungkin tidak lama lagi aku harus berpisah dengan kalian karena aku akan menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Wirana, aku titipkan padamu tugas untuk menjaga Sendhang Panguripan. Jika ada hal aneh di sendang itu, ingatlah untuk menggunakan tongkat Ki Sapujagad yang tertancap di sana.”

Setelah Ki Bonasri meninggal dunia, Wirana menjaga Sendhang Panguripan dan hidup bersama istrinya. Tak lama setelah itu, istrinya hamil dan saat tiba waktunya melahirkan, terjadi peristiwa aneh. Sore itu, Nyi Wirana sendirian di rumah, sementara Ki Wirana belum pulang dari sawah. Dalam keadaan bingung dan kesakitan, tiba-tiba seekor burung branjangan masuk ke dalam rumah dan hinggap di atap tepat di atas tempat tidurnya.

Tak lama setelah burung itu datang, Ki Wirana pun pulang. Begitu ia masuk ke dalam rumah, Nyi Wirana melahirkan seorang bayi laki-laki. Burung branjangan yang hinggap tadi terbang keluar dari rumah. Karena peristiwa itu, bayi tersebut diberi nama Branjang.

Branjang tumbuh menjadi anak yang lincah dan tangkas. Ia gemar mencari ikan di sungai dan berburu binatang di hutan dengan panah yang ia buat sendiri dari bambu. Setiap hari, banyak teman-temannya datang ke rumah untuk ikut makan hasil tangkapan Branjang, baik ikan maupun daging hewan buruan. Selain itu, Branjang juga mengajari teman-temannya cara memanah dan bela diri.

Branjang pun menjadi sosok yang disegani, dan padukuhan tempat ia tinggal dikenal sebagai tempat berkumpulnya para pemuda pemberani. Hingga kini, ketangguhan Branjang, kemuliaan hati Ki Bonasri, dan keajaiban alam di tempat itu masih menjadi cerita turun-temurun yang menghiasi kehidupan penduduk padukuhan Glagah Ombo.