
Padukuhan Nangsri terletak di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Menurut Drs. Suharto, Lurah Girikerto periode 1999-2013, Padukuhan Nangsri memiliki peran penting dalam pengukuhan Kalurahan Girikerto sebagai Desa Budaya Mandiri yakni ‘memayu hayuning bawana’ dengan budaya Ngrowhod.
Sendang Panguripan
Masih ceritera Suharto, sekitar abad XIV, daerah utara Kabupaten Sleman mengalami kekeringan yang hebat menyebabkan bencana kelaparan. Dalam suasana prihatin, masyarakat kedatangan dua orang utusan dari kerajaan Majapahit bernama Kyai Sapujagat dan Kyai Jajak. Kedua utusan itu ikut prihatin melihat kondisi masyarakat selatan Gunung Merapi tersebut. Tanaman banyak yang kering, hanya tumbuh ilalang. Semua orang tatapannya kosong, tak ada harapan serta harus berbuat apa. Kyai Sapujagad dan Kyai Jajak menghampiri mereka, serta merta orang-orang yang berkumpul berebut bekal makanan yang memang diberikan. Kedua utusan akhirnya memutuskan untuk memanjatkan doa dengan bersemadi, agar dapat jalan keluar memecahkan kekeringan yang dihadapi masyarakat tersebut.
Kyai Sapujagat menyampaikan kepada Kyai Jajak, bahwa dia mendapat wisik. Yang pertama agar menghentakkan kaki kirinya tiga kali ke tanah, dekat dengan pohon di mana ia bersemedi. Juga diberitahu bahwa Gunung Merapi akan meletus tapi tidak ber- bahaya, bahkan menjadikan tanah sekitarnya men- jadi subur. Dan menyebabkan, adanya sungai yang mengalir ke selatan.
Kyai Sapujagad menghentakkan kaki tiga kali, maka keluarlah sumber air yang memancar ke atas dan menggenang. Masyarakat gembira, seketika ada yang minum, mandi dengan suka cita. Bahkan ada yang berteriak kegirangan: “Urip maneh! Urip maneh!”
Keberadaan mata air yang berujud sendang itu membawa manfaat bagi kehidupan, masyarakat me- nyebutnya sumber kehidupan atau Sendang Panguripan dan menjadi awal kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Masyarakat bisa memanfaatkan sumber air tersebut untuk kehidupan, juga ternak dan tumbuhan.
Karena ada keperluan lain, Kyai Sapujagat melanjutkan perjalanan ke utara dan Kyai Jajak diminta untuk tinggal dan menunggu Sendang Panguripan. Pada suatu saat, air Sendang Panguripan makin besar. Peristiwa ini membuat warga panik, karena takut terjadi banjir besar yang menggenangi daerah itu. Apalagi di dalam sendang, muncul ikan-ikan berasal dari laut. Atas inisiatif Kyai Jajak bersama warga, selain berupaya secara fisik juga memohon doa dan memberikan tumbal kepala kerbau. Setelah prosesi itu, secara berangsur-angsur air sendang Panguripan mereda dan tidak meluap lagi.
Masyarakat sekitar menilai, Kyai Jajak orang yang kreatif dan rajin. Berkat pemeliharaannya, Sendang Panguripan terlihat indah dan asri. Kyai Jajak juga bisa mengobati orang-orang sekitar yang sakit. Setiap orang yang datang ke sendang untuk mengambil air ataupun hanya sekadar untuk bertandang, selalu berkata bahwa daerah sekitar sendang itu asri. Atas dasar itu, warga menyebut daerah Sendang Panguripan sebagai daerah kebon asri. Sebagai penghormatan atas jasanya yang menjadikan daerah sekitar sendang itu indah dan asri, Kyai Jajak diberi nama Kyai Benangsri dan ditetapkan sebagai cikal bakal di wilayah tersebut. Kata itu berasal dari Kebon asri, ‘bon asri’ akhirnya menjadi Benangsri. Sepeninggal Kyai Benangsri, masyarakat menyebut sebagai daerah Nangsri atau Padukuhan Nangsri. Sebagai penghargaan masyarakat atas jasanya, setelah beliau meninggal dunia dimakamkan di Nangsri Kidul.
Agresi Militer Belanda
Dukuh Nangsri, Suwarsono mengatakan, agresi militer Belanda yang dikenal dengan nama Clash II telah menyerang Ibu Kota RI Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Mendengar berita itu Pemerintah Kabupaten Sleman dengan Bupati Projodiningrat segera memerintahkan untuk pindah ke Rumah Mertodihardjo di Nangsri Kidul (rumah Drs. Suharto sekarang). Rumah tersebut digunakan, tempat berkumpulnya para pejuang Laskar Rakyat juga sebagai dapur umum. Panewu Pemerintah Girikerto RW Projoharjono, memimpin pindahnya Pemerintah Kecamatan Turi ke Padukuhan Karanggawang di Rumah Pawirosumarto dan disitu juga didirikan Pos PMI.
Saat itu, Mertosunjoyo menjadi Jagabaya dan Mertodiharjo menjabat sebagai Ulu-ulu. Mereka berdua adalah eyang Drs. Soeharto. Mereka telah ikut serta dalam belanegara saat perlawanan terhadap agresi Belanda tersebut. Selain karena memiliki rumah besar dan sawah sangat luas, mereka mampu menyuplai pasokan makanan untuk gerilyawan yang singgah di Nangsri tempat pangkalan para tentara brigadir 17 karena Belanda bermarkas di Kaliurang. Beberapa kali Belanda mengadakan penyisiran, sehingga suatu saat terjadi kontak senjata. Dalam kontak senjata itu, ada pejuang yang gugur yaitu Yoga Semeru yang dimakamkan di Pemakaman Nangsri Kidul dan R.Ng. Radyo Hadi Sugondo atau Sarindi yang di Nagsri Lor. Pernah dalam usaha untuk menghilangkan jejak, mobil bupati yang ditinggal di Nangsri dibuang di sebuah jurang. Perjuangan melawan agresi Belanda dihadapi dengan bahu-membahu antara tentara dan gerilyawan, meskipun secara kekuatan tentu kalah besar dan kalah senjata, telah ditunjukkan semangat juang yang tinggi. Untuk mengenang para pejuang yang berada di Nangsri, didirikan Tugu Peringatan yang berada di dekat lapangan di selatan Padukuhan Nangsri.
Yang membuat gembira sekaligus bangga, karena rumah tempat Suharto sering dikunjungi Sri Sultan HB IX saat zaman perjuangan maupun setelah kemerdekaan. Demikian juga Sri Sultan HB X, baik sebelum maupun sesudah naik tahta. Padukuhan Nangsri memiliki sejarah perjuangan dan kebudayaan.
Penulis : Budi Nugroho
Tenaga Ahli : Sutopo Sugihartono

