
Klapa Sawit berasal dari kata “klapa sak wit” atau kelapa satu batang. Ketika itu hanya ada satu batang pohon kelapa dan satu-satunya di Dukuh Klapa Sawit, yaitu pohon kelapa dari cikal yang dibawa oleh Ranggil. Klapa sawit bisa juga diartikan pohon kelapa yang ditanam “nyawit” atau sejajar dan teratur dengan jarak yang sama.
“Setelah kambil uling berbuah lebat, Kyai Ranggil memetik buahnya. Buah-buah tersebut belum dimanfaatkan. Namun, dibiarkan tumbuh menjadi cikal-cikal baru. Cikal-cikal tersebut kemudian dibagikan kepada warga Dukuh Kopen agar ditanam di tanah pekarangan masing-masing. Hal ini berlangsung terus –menerus dalam jangka waktu lama sampai akhirnya setiap rumah memiliki pohon kelapa. Kyai Ranggil berpesan agar cikal-cikal tersebut ditanam dengan jarak yang sama dan sejajar. Orang Jawa mengatakan teknik ini dengan nama “disawit” atau teratur dan seragam jaraknya. Hal ini mengandung maksud agar cikal dapat tumbuh lebih optimal dan enak dipandang, karena rapi, sejajar, dan teratur”, kata Pak Panut.
Saat ini, pohon kelapa yang ditanam Kyai Ranggil, yang dijuluki kambil uling, tentu saja sudah tidak ada. Namun, warga Klapa Sawit meyakini bahwa pohon-pohon kelapa yang ada saat ini adalah keturunan kambil uling. Menurut Pak Djendjem (76 tahun), salah seorang sesepuh Dukuh Klapa Sawit, pada masa penjajahan Belanda, Dukuh Klapa Sawit menjadi sentra perkebunan kelapa. Cikal-cikal ditanam “nyawit” artinya ditanam dengan seragam jaraknya sehingga teratur. Selain sedap dipandang mata, hal ini juga bermaksud memudahkan dalam perawatan dan memetik buahnya. Karena banyaknya cikal yang ditanam di Dukuh Klapa Sawit, warga di luar dusun sering menyebut pula dengan nama Dukuh Cikalan. Pak Djendjem memanfaatkan batang pohon kelapa dari perkebunan tersebut untuk bahan bangunan rumahnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Dukuh Klapa Sawit semula bernama Dukuh Kopen. Di Dukuh Kopen tidak ada pohon kelapa satu pun. Kedatangan seorang pemuda dari Kadipaten Lumajang yang bernama Ranggil dengan membawa satu buah “cikal” membawa perubahan besar bagi kehidupan warga masyarakat Dukuh Kopen. Cikal yang ditanam tumbuh menjadi “kambil uling”, berbuah banyak dan beranak pinak, sehingga di Dukuh Kopen banyak tumbuh pohon kelapa. Pohon kelapa yang memiliki banyak manfaat, menjadikan warga masyarakat Dukuh Kopen hidup sejahtera. Dari “kambil uling”, “klapa sak wit” atau pohon kelapa satu batang tersebut, akhirnya nama Dukuh Klapa Sawit diabadikan.

