20 September 2026

Sendhang Panguripan

8 July 2025

DAPOBUD-OPK: Warisan Budaya Benda,

Sendhang yang berada di Padukuhan Nangsri yang digunakan untuk pengambilan air saat Upacara Adat Ngrowhod dan adanya tombak bermuka dua.

Sekitar abad XIV, daerah utara Kabupaten Sleman mengalami kekeringan yang hebat menyebabkan bencana kelaparan. Dalam suasana prihatin, masyarakat kedatangan dua orang utusan dari kerajaan Majapahit bernama Kyai Sapujagat dan Kyai Jajak. Kedua utusan itu ikut prihatin melihat kondisi masyarakat selatan Gunung Merapi tersebut. Tanaman banyak yang kering, hanya tumbuh ilalang. Semua orang tatapannya kosong, tak ada harapan serta harus berbuat apa. Kyai Sapujagad dan Kyai Jajak menghampiri mereka, serta merta orang-orang yang berkumpul berebut bekal makanan yang memang diberikan. Kedua utusan akhirnya memutuskan untuk memanjatkan doa dengan bersemadi, agar dapat jalan keluar memecahkan kekeringan yang dihadapi masyarakat tersebut.

Kyai Sapujagat menyampaikan kepada Kyai Jajak, bahwa dia mendapat wisik. Yang pertama agar menghentakkan kaki kirinya tiga kali ke tanah, dekat dengan pohon di mana ia bersemedi. Juga diberitahu bahwa Gunung Merapi akan meletus tapi tidak berbahaya, bahkan menjadikan tanah sekitarnya menjadi subur. Dan menyebabkan, adanya sungai yang mengalir ke selatan.

Kyai Sapujagad menghentakkan kaki tiga kali, maka keluarlah sumber air yang memancar ke atas dan menggenang. Masyarakat gembira, seketika ada yang minum, mandi dengan suka cita. Bahkan ada yang berteriak kegirangan: “Urip maneh! Urip maneh!”

Keberadaan mata air yang berujud sendang itu membawa manfaat bagi kehidupan, masyarakat menyebutnya sumber kehidupan atau Sendang Panguripan dan menjadi awal kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Masyarakat bisa memanfaatkan sumber air tersebut untuk kehidupan, juga ternak dan tumbuhan.

Karena ada keperluan lain, Kyai Sapujagat melanjutkan perjalanan ke utara dan Kyai Jajak diminta untuk tinggal dan menunggu Sendang Panguripan. Pada suatu saat, air Sendang Panguripan makin besar. Peristiwa ini membuat warga panik, karena takut terjadi banjir besar yang menggenangi daerah itu. Apalagi di dalam sendang, muncul ikan-ikan berasal dari laut. Atas inisiatif Kyai Jajak bersama warga, selain berupaya secara fisik juga memohon doa dan memberikan tumbal kepala kerbau. Setelah prosesi itu, secara berangsur-angsur air sendang Panguripan mereda dan tidak meluap lagi.

Masyarakat sekitar menilai, Kyai Jajak orang yang kreatif dan rajin. Berkat pemeliharaannya, Sendang Panguripan terlihat indah dan asri. Kyai Jajak juga bisa mengobati orang-orang sekitar yang sakit. Setiap orang yang datang ke sendang untuk mengambil air ataupun hanya sekadar untuk bertandang, selalu berkata bahwa daerah sekitar sendang itu asri. Atas dasar itu, warga menyebut daerah Sendang Panguripan sebagai daerah kebon asri. Sebagai penghormatan atas jasanya yang menjadikan daerah sekitar sendang itu indah dan asri, Kyai Jajak diberi nama Kyai Benangsri dan ditetapkan sebagai cikal bakal di wilayah tersebut. Kata itu berasal dari Kebon asri, ‘bon asri’ akhirnya menjadi Benangsri. Sepeninggal Kyai Benangsri, masyarakat menyebut sebagai daerah Nangsri atau Padukuhan Nangsri. Sebagai penghargaan masyarakat atas jasanya, setelah beliau meninggal dunia dimakamkan di Nangsri Kidul.